Jumat, 12 Oktober 2018

Sistem Imun


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Pengertian
Sistem imun adalah suatu sistem pertahanan tubuh yang kompleks yang memberikan perlindungan terhadap adanya invasi zat-zat asing ke dalam tubuh. Sistem kekebalan tubuh atau sistem imun adalah sistem perlindungan dari pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme sehingga tidak mudah terkena penyakit. Jika sistem imun bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Sebaliknya, jika sistem imun melemah, maka kemampuannya untuk melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus penyebab demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem imun juga memberikan pengawasan terhadap pertumbuhan sel tumor. Terhambatnya mekanisme kerja sistem imun telah dilaporkan dapat meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker.
Mekanisme pertahanan tubuh terdiri atas mekanisme pertahanan non spesifik dan mekanisme pertahanan spesifik. Mekanisme pertahanan non spesifik disebut juga komponen nonadaptif atau innate, atau imunitas alamiah, artinya mekanisme pertahanan yang tidak ditujukan hanya untuk satu jenis antigen, tetapi untuk berbagai macam antigen. Imunitas alamiah sudah ada sejak bayi lahir dan terdiri atas berbagai macam elemen non spesifik. Jadi bukan merupakan pertahanan khusus untuk antigen tertentu. Kemampuan sistem kekebalan untuk membedakan komponen sel tubuh dari komponen patogen asing akan menopang amanat yang diembannya guna merespon infeksi patogen – baik yang berkembang biak di dalam sel tubuh (intraselular) seperti misalnya virus, maupun yang berkembang biak di luar sel tubuh (ekstraselular) – sebelum berkembang menjadi penyakit.
B.   Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan sistem Imun?
2.      Apa yang dimaksud dengan mekanisme pertahanan tubuh spesifik dan non spesifik?
3.      Bagaimana mekanisme efektor pertahanan tubuh yang terlibat dalam respon imun non spesifik?
4.      Bagaimana interaksi sistem imun non-spesifik dengan sistem Imun spesifik?
C.   Tujuan Penulisan
Makalah ini dibuat dengan bertujuan menjelaskan bagaimana sistem – sistem imun yang terjadi pada tubuh manusia.










BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian Sistem Imun
Imunologi adalah ilmu yang mempelajari tentang proses pertahanan atau imunitas terhadap senyawa makromolekuler atau organisme asing yang masuk ke dalam tubuh. Sistem imun adalah suatu sistem pertahanan tubuh yang kompleks yang memberikan perlindungan terhadap adanya invasi zat-zat asing ke dalam tubuh. Sistem kekebalan tubuh atau sistem imun adalah sistem perlindungan dari pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme sehingga tidak mudah terkena penyakit. Jika sistem imun bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh.
Mekanisme pertahanan tubuh terdiri atas mekanisme pertahanan non spesifik dan mekanisme pertahanan spesifik. Mekanisme pertahanan non spesifik disebut juga komponen nonadaptif atau innate, atau imunitas alamiah, artinya mekanisme pertahanan yang tidak ditujukan hanya untuk satu jenis antigen, tetapi untuk berbagai macam antigen. Imunitas alamiah sudah ada sejak bayi lahir dan terdiri atas berbagai macam elemen non spesifik. Jadi bukan merupakan pertahanan khusus untuk antigen tertentu. Kemampuan sistem kekebalan untuk membedakan komponen sel tubuh dari komponen patogen asing akan menopang amanat yang diembannya guna merespon infeksi patogen – baik yang berkembang biak di dalam sel tubuh (intraselular) seperti misalnya virus, maupun yang berkembang biak di luar sel tubuh (ekstraselular) – sebelum berkembang menjadi penyakit.
Sebaliknya, jika sistem imun melemah, maka kemampuannya untuk melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus penyebab demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem imun juga memberikan pengawasan terhadap pertumbuhan sel tumor. Terhambatnya mekanisme kerja sistem imun telah dilaporkan dapat meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker. Berbagai senyawa organik dan anorganik, baik yang hidup maupun mati yang berasal dari hewan, tumbuhan, jamur, bakteri, virus, parasit, debu, polusi, asap, dan bahan iritan lainnya yang masuk ke dalam tubuh dapat menimbulkan penyakit dan kerusakan jaringan. Bagian-bagian yang dianggap bukan bagian tubuh (non-self) akan dimusnahkan oleh sistem imun tubuh.
B.   Mekanisme pertahanan spesifik dan non spesifik
Mekanisme pertahanan tubuh spesifik atau disebut juga komponen adaptif  atau imunitas didapat adalah mekanisme pertahanan yang ditujukan khusus terhadap satu jenis antigen, karena itu tidak dapat berperan terhadap antigen jenis lain. Bedanya dengan pertahanan tubuh non spesifik adalah bahwa pertahanan tubuh spesifik harus kontak atau ditimbulkan terlebih dahulu oleh antigen tertentu, baru ia akan terbentuk. Sedangkan pertahanan tubuh non spesifik sudah ada sebelum ia kontak dengan antigen.
1.         Mekanisme Pertahanan Non Spesifik
Sistem imun non-spesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi serangan berbagai mikroorganisme, karena dapat memberikan respon langsung terhadap antigen. Sistem tersebut disebut non-spesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu. (Bratawidjaja dan Rengganis, 2009). Sebagai elemen pertama dari sistem imun untuk menemukan agen penyerang, respon imun non-spesifik diaktifkan lebih cepat daripada respon imun spesifik namun dengan durasi yang lebih singkat (Delves and Ivan, 2000).
Komponen-kompenen sistem imun non-spesifik terdiri atas:
a.       Pertahanan fisik/mekanik
Dalam sistem pertahanan fisik atau mekanik ini, kulit, selaput lendir, silia saluran napas, batuk dan bersin akan mencegah masuknya berbagai kuman patogen ke dalam tubuh. Kulit yang rusak misalnya oleh luka bakar dan selaput lendir yang rusak oleh asap rokok akan meninggikan risiko infeksi (Baratawidjaja dan Rengganis, 2009).
Menurut  Baratawidjaja  dan  Rengganis  (2010), mekanisme imunitas non-spesifik terhadap bakteri pada tingkat sawar fisik seperti kulit atau permukaan mukosa:
1.      Bakteri yang bersifat simbiotik atau komensal yang ditemukan pada kulit menempati daerah terbatas pada kulit dan menggunakan hanya sedikit nutrient, sehingga kolonisasi kolonisasi oleh mikroorganisme patogen sulit terjadi.
2.      Kulit merupakan sawar fisik efektif dan pertumbuhan bakteri dihambat sehingga agen patogen yang menempel akan dihambat oleh pH rendah dari asam laktat yang terkandung dalam sebum yang dilepas kelenjar keringat.
3.      Sekret dipermukaan mukosa mengandung enzim destruktif seperti lisozim yang menghancurkan dinding sel bakteri.
4.      Saluran napas dilindungi oleh gerakan mukosiliar sehingga lapisan mukosa secara terus menerus digerakkan menuju arah nasofaring.
5.      Bakteri ditangkap oleh mukus sehingga dapat disingkirkan dari saluran napas.
6.      Sekresi mukosa saluran napas dan saluran cerna mengandung peptida antimikrobial yang dapat memusnahkan mikroba pathogen.
7.      Mikroba patogen yang berhasil menembus sawar fisik dan masuk ke jaringan dibawahnya dapat dimusnahkan dengan bantuan komplemen dan dicerna oleh fagosit.
Gambar: Mekanisme pertahanan oleh sel epitel
b.      Pertahanan biokimiawi
Pertahanan biokimiawi adalah seperti asam hidroklorida dalam lambung, enzim proteolitik dalam usus, serta lisozim dalam keringat, air mata, dan air susu (Baratawidjaja dan Rengganis, 2009). Lisozim dalam keringat, ludah, air mata dan air susu ibu, melindungi tubuh terhadap berbagai kuman postif-Gram oleh karena dapat menghancurkan lapisan peptidoglikan dinding bakteri. Air susu ibu juga mengandung laktooksidase dan asam neuraminik yang mempunyai sifat antibakterial terhafap E.koli dan stafilokokus (Baratawidjaja dan Rengganis, 2010).
c.       Pertahanan humoral
·         Komplemen
Sistem komplemen tersusun lebih dari 20 protein plasma. Sistem ini mempunyai fungsi antimikroba non-spesifik dan merupakan sistem aplikasi yang efektif untuk memperkuat mekanisme pertahanan non-spesifik dan spesifik (Wahab dan Julia, 2002). Berbagai bahan seperti antigen dan kompleks imun dapat mengaktivsi komplemen sehingga menghasilkan berbagai mediator yang mempunyai sifat biologi yang aktif, yang menyebabkan lisis bakteri atau sel, memproduksi mediator pro-inflamasi yang dapat memperkuat proses dan solubilisasi kompleks antigen-antibodi. Komplemen memiliki 3 jalur, yaitu jalur klasik, alternatif dan membrane attack pathway. (Darwin, 2005).
Gambar:  Jalur aktivasi komplemen
·         Interferon
Interferon adalah sitokin berupa glikoprotein yang diproduksi makrofag yang diaktifkan, sel NK dan berbagai sel tubuh yang mengandung nukleus dan dilepas sebagai respons terhadap infeksi virus. IFN mempunya sifat antivirus dan dapat menginduksi sel-sel sekitar sel yang terinfeksi virus menjadi resisten terhadap virus. Di samping itu,IFN juga adapat mengaktifkan sel NK. Sel yang diinfeksi virus atau menjadi ganas akan menunjukkan perubahan pada permukaannya yang akan dikenal dan dihancurkan sel NK. Dengan demikian penyebaran virus dapat dicegah (Baratawidjaja  dan  Rengganis, 2010).
·         C-Reactive Protein
CRP merupakan salah satu protein fase akut, termasuk golongan protein yang kadarnya dalam darah meningkat pada infeksi akut sebagai respons imunitas non-spesifik. CRP mengikat berbagai mikroorganisme yang membentuk kompleks dam mengaktifkan komplemen jalur klasik. Pengukuran CRP berguna untuk menilai aktivitas penyakit inflamasi. CRP dapat meningkat 100x atau lebih dan berperan pada imunitas non-spesifik yang dengan bantuan Ca++ dapat mengikat berbagai molekul antara lain fosforilkolin yang ditemukan pada permukaan bakteri/jamur dan dapat mengaktifkan komplemen (jalur klasik). CRP juga mengikat protein C dari pneumokok dan berupa opsonin. Peningkatan sintesis CRP akan meningkatkam viskositas plasma sehingga laju endap darah juga akan meningkat. Adanya CRP yang tetap tinggi menunjukan infeksi yang persisten (Baratawidjaja dan Rengganis, 2009).
d.     Pertahanan selular
·         Fagosit
Sel utama yang berperan dalam pertahanan nons-pesifik adalah sel mononuklear (monosit dan makrofag) serta sel polimorfonuklear atau granulosit. Sel-sel ini berperan sebagai sel yang menangkap antigen, mengolah dan selanjutnya mempresentasikannya kepada sel T, yang dikenal sebagai sel penyaji atau APC. Kedua sel tersebut berasal dari sel asal hemopoietik. Granulosit hidup pendek, mengandung granul yang berisikan enzim hidrolitik. Beberapa granul berisikan pula laktoferin yang bersifat bakterisidal (Baratawidjaja dan Rengganis, 2009)
Gambar: Proses fagositosis dalam berbagai tahap
·         Makrofag
Monosit ditemukan dalam sirkulasi, tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit dibanding neutrofil. Monosit bermigrasi ke jaringan dan di sana berdiferensiasi menjadi makrofag yang seterusnya hidup dalam jaringan sebagai makrofag residen. Sel kuppfer adalah makrofag dalam hati, histiosit dalam jaringan ikat, makrofag alveolar di paru, sel glia di otak, dan sel langerhans di kulit. Makrofag dapat hidup lama, mempunyai beberapa granul dan melepas berbagai bahan, antara lain lisozim, komplemen, interferon dan sitokin yang semuanya memberikan kontribusi dalam pertahanan nonspesifik dan spesifik (Mardjono dan Shidarta, 2006).
·         Sel NK (Natural Killer)
Jumlah sel NK sekitar 5-15% dari limfosit dalam sirkulasi dan 45% dari limfosit dalam jaringan. Sel tersebut berfungsi dalam imunitas nonspesifik terhadap virus dan sel tumor. Secara morfologis sel NK merupakan limfosit dengan granul besar. Ciri-cirinya yaitu memiliki banyak sekali sitoplasma (limfosit T dan B hanya sedikit), granul sitoplasma azurofilik, pseudopodia dan nukleus eksentris (Baratawidjaja dan Rengganis, 2009).
Pertemuan antara hospes dengan benda asing menimbulkan respon elemen fagosit ke daerah tempat benda asing tersebut masuk. Hal ini dapat terjadi sebagai bagian dari respon inflamatoris.
Ø  Inflamasi
Setelah ancaman injuri jaringan, terjadi perluasan seluler dan sistematik, dimana hospes mencaba unutuk menormalkan dan memelihara homeostatis dari lingkungan yang merugikan. Bersamaan dengan respon inflamatoris timbul  beberapa kejadian sistematik yang melibatkan demam dan beberapa fenomena  hematologik. Respon demam ini diduga menggambarkan peningkatan aktifitas  metabolik setelah injuri. Mekanisme terjadinya demam diduga akibat lepasnya  pirogen endogen dari leukosit hospes. Kenaikan angka leukosit pada saat infeksi  bakteri atau ada injuri jaringan.
Ø  Fagositosis
Sekali begerak sel-sel fagositosis melakukan serangan pada sasarannya  dengan proses yang disebut fagositosis yaitu suatu upaya multiphase yang  memerlukan langkah-langkah sebagai berikut: pengenalan (recognition) dari benda yang akan dicerna, gerakan ke arah obyek (kemotaksis), perlekatan,  penelanan (ingestion) intraseluler oleh mekanisme mikroba-mikroba. Banyak  mikroorganisme menghasilkan faktor kemotaksis yang menarik sel-sel  fagositosit. Kerusakan dalam kemotaksis mungkin menyebabkan kerentangan  yang luar biasa terhadap infeksi tertentu (Wahab dan Julia, 2002).

2.          Pertahanan mekanisme spesifik
Sistem imun spesifik  mempunyai  kemampuan untuk mengenal  benda yang dianggap asing bagi  dirinya.  Benda asing  yang  pertama kali terpajan dengan  tubuh  segera  dikenal  oleh  sistem imun  spesifik.  Pajanan  tersebut  menimbulkan  sensitifitatasi, sehingga  antigen  yang  sama  dan  masuk  tubuh  untuk  kedua  kali  akan  dikenal  lebih  cepat dan kemudian  dihancurkan.  Oleh  karena  itu,  sistem  tersebut  disebut  spesifik.  Untuk  menghancurkan benda asing yang berbahaya bagi  tubuh,  sistem imun spesifik dapat  bekerja tanpa bantuan sistem imun  nonspesifik.  Namun  pada  umumnya  terjalin  kerjasama  yang  baik  antara  sistem  imun nonspesifik  dan  spesifik  seperti  antara  komplemen-fagosit-antibodi  dan  antara  makrofag dengan sel  T (Baratawidjaja dan Rengganis, 2010).
Sistem pertahanan spesifik terutama tergantung pada sel-sel limfoid. Ada dua populasi utama sel limfoid, yaitu sel T dan sel B. Rasio sel T terhadap sel B sekitar 3 : 1. Limfosit berkembang pada organ limfoid primer, sel T berkembang di timus, sedangkan sel B di hepar janin atau di sumsum tulang. Kedua jenis sel tersebut kemudian akan bermigrasi ke jaringan limfoid sekunder, tempatnya merespon antigen (Wahab dan Julia, 2002).
Sistem imun spesifik terdiri atas sistem humoral dan sistem seluler. Pada imunitas humoral, sel  B  melepas  antibodi  untuk  menyingkirkan  mikroba  ekstraselular.  Pada  imunitas  seluler,  sel  T mengaktifkan  makrofag  sebagai  efektor  untuk  menghancurkan  mikroba  atau  mengaktifkan  sel CTC/Tc sebagai efektor yang menghancurkan sel terinfeksi (Baratawidjaja dan Rengganis, 2010).
a.     Sistem Imun Spesifik Humoral
Limfosit B atau sel B berperan dalam sistem imun spesifik humoral. Sel B tersebut berasal dari sel asal multipoten. Pada unggas sel asal tersebut akan berdiferensiasi menjadi sel B di dalam alat yang disebut Bursa Fabricius yang terletak dekat kloaka. Bila sel B dirangsang oleh benda asing, maka sel tersebut akan berproliferasi dan berkembang menjadi sel plasma yang dapat membentuk zat antibodi. Antibodi yang dilepas dapat ditemukan di dalam serum. Fungsi utama antibodi ini ialah untuk pertahanan terhadap infeksi virus, bakteri (ekstraselular), dan dapat menetralkan toksinnya.
Sel  B merupakan asal dari  sel  plasma yang membentuk imunoglobulin (Ig) yang terdiri atas IgG, IgM, IgA, IgE dan IgD. IgD berfungsi sebagai opsonin, dapat mengaglutinasikan kuman/virus, menetralisir toksin dan virus, mengaktifkan komplemen (jalur  klasik) dan berperanan pada Antibody Dependent Cellular Cytotoxicity (ADCC). ADCC tidak hanya merusak  sel  tunggal  tetapi  juga  mikroorganisme  multiselular  seperti  telur  skistosoma, kanker,  penolakan  transplan,  sedang  ADCC  melalui  neutrofil  dan  eosinofil  berperan pada  imunitas  parasit.  IgM  dibentuk  terdahulu  pada  respons  imun  primer  sehingga kadar  IgM  yang  tinggi  menunjukkan  adanya  infeksi  dini.  IgM  merupakan  aglutinator antigen  serta  aktivator  komplemen (jalur  klasik) yang  poten.  IgA  ditemukan  sedikit dalam sekresi  saluran napas,  cerna dan kemih,  air  mata,  keringat,  ludah dan air  susu ibu  dalam bentuk  IgA  sekretori (sIgA).  IgA  dan  sIgA  dapat  menetralisir  toksin,  virus, mengaglutinasikan  kuman  dan  mengaktifkan  komplemen (jalur  alternatif). IgE berperanan  pada  alergi,  infeksi  cacing,  skistosomiasis,  penyakit  hidatid,  trikinosis. Peranan IgD belum banyak diketahui  dan diduga mempunyai  efek antibodi  pada alergi makanan dan autoantigen (Baratawidjaja, 1993).
Sel B mengenali epitop pada permukaan antigen dengan menggunakan molekul antibodi. Jika dirangsang melalui kontak langsung, sel B berproliferasi, dan klon yang dihasilkan dapat mengeluarkan antibodi yang spesifisitas adalah sama dengan reseptor permukaan sel yang mengikat epitop tersebut. Tanggapan biasanya melibatkan klon yang berbeda dari limfosit dan oleh karena itu disebut sebagai poliklonal. Untuk setiap epitop terdapat beberapa klon limfosit yang berbeda dengan berbagai sel B reseptor, yang masing-masing mengenali epitop dengan cara yang sedikit berbeda dan dengan kekuatan mengikat yang berbeda pula (afinitas) (Delves and Ivan, 2000).
Gambar: Pengenalan epitop pada sel B
b.     Sistem Imun Spesifik Seluler
Imunitas seluler ditengahi oleh sekelompok limfosit yang berdiferensiasi di bawah pengaruh timus (Thymus), sehingga diberi nama sel T. Cabang efektor  imunitas spesifik ini dilaksanakan langsung oleh limfosit yang tersensitisasi  spesifik atau oleh produk-produk sel spesifik yang dibentuk pada interaksi antara imunogen dengan limfosit-limfosit tersensitisasi spesifik. Produk-produk sel spesifikasi ini ialah limfokin-limfokin termasuk penghambat migrasi (migration inhibition factor = MIF), sitotoksin, interferon dan lain sebagainya yang menjadi efektor molekul-molekul dari imunitas seluler (Delves and Ivan, 2000).
Sel T merupakan 65-80% dari semua limfosit dalam sirkulasi. Kebanyakan sel T mempunyai 3 glikoprotein permukaan  yang dapat diketahui dengan antibodi monoklonal T11, T1 dan T3 (singkatan T berasal dari Ortho yang membuat antibodi tersebut) (Delves and Ivan, 2000). Fungsi sel T umumnya ialah:
1)      Membantu sel B dalam memproduksi antibodi
2)      Mengenal  dan menghancurkan sel yang diinfeksi virus
3)      Mengaktifkan makrofag dalam fagositosis
4)      Mengontrol ambang dan kualitas sistem imun
Pada tubuh ditemui beberapa jenis sel T, yaitu T”helper” atau Th; T”inducer”, T”delayed hypersensitivity” atau Td, T”cytotoxic” atau Tc dan T”supressor” atau Ts. T”helper” atau Th membantu sel B dalam pembuatan “antibodi”. Untuk membuat antibodi terhadap kebanyakan antigen, baik sel B maupun sel T harus mampu mengenali kembali bagian-bagian tertentu dari antigennya. Th bekerja sama juga dengan Tc dalam pengenalan kembali sel-sel yang dilanda infeksi viral dan jaringan cangkokan alogenik. Th membuat dan melepaskan limfokin yang diperlukan untuk menggalakkan makrofag dan tipe sel lainnya. T”inducer” adalah istilah yang digunakan untuk Th yang sedang  menggalakkan jenis sel T lainnya.  T”delayed hypersensitivity” atau Td adalah sel T yang bertanggungjawab atas  pengarahan makrofag dan sel-sel inflamasi lainnya ke tempat-tempat dimana terjadi reaksi hipersensitivitas yang terlambat. Mungkin sekali Td bukan suatu sub jenis sel T melainkan kelompok Th yang sangat aktif. T”citotoxic” atau Tc adalah sel T yang bertugas memusnahkan sel atau jaringan cangkokan alogenik dan sel-sel yang dilanda infeksi viral, yang dikenali kembali dalam interaksi dengan berbagai antigen dalam MHC molekul pada permukaaan sel tujuannya. T”supressor” atau Ts mengatur kegiatan sel T lain dan sel B. Sel tersebut dapat dikelompokkan dalam 2 golongan , yaitu Tc yang dapat menekan aktivitas sel yang memiliki reseptor antigen spesifik atau yang non-spesifik (Black, 2002)
C. Interaksi Sistem Imun Non-Spesifik dengan Sistem Imun Spesifik
Imunitas non-spesifik berperan sebagai pertahanan pertama terhadap agen infeksius, dimana mikroorganisme patogen akan dihancurkan sebelum berkembang biak dan sebelum menimbulkan infeksi. Apabila pertahanan pertama tidak dapat mencegah infeksi sehingga menimbulkan penyakit, maka sistem imun spesifik akan diaktivasi. Penyembuhan melalui respon imun spesifik akan meninggalkan memori imunologi yang spesifik sehingga infeksi selanjutnya dengan agen infeksius yang sama tidak akan menimbulkan penyakit (Darwin, 2005).
Sistem kekebalan tubuh non-spesifik menyediakan sinyal, yang bersama-sama dengan proliferasi antigen spesifik dan aktivasi limfosit T dan B, menyebabkan sinyal dari sistem imun non-spesifik meningkatkan dan memodulasi respon imun spesifik. Sistem kekebalan tubuh non-spesifik memainkan peran sebagai adjuvant pada aktivasi sistem kekebalan tubuh spesifik (Engelhardt, 2009).
Gambar: Stimulasi yang terbentuk dari respon imun non-spesifik kepada  respon imun spesifik
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Sistem imun adalah suatu sistem pertahanan tubuh yang kompleks yang memberikan perlindungan terhadap adanya invasi zat-zat asing ke dalam tubuh. Sistem kekebalan tubuh atau sistem imun adalah sistem perlindungan dari pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme sehingga tidak mudah terkena penyakit. Jika sistem imun bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Sebaliknya, jika sistem imun melemah, maka kemampuannya untuk melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus penyebab demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem imun juga memberikan pengawasan terhadap pertumbuhan sel tumor. Terhambatnya mekanisme kerja sistem imun telah dilaporkan dapat meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker.
Mekanisme pertahanan tubuh terdiri atas mekanisme pertahanan non spesifik dan mekanisme pertahanan spesifik. Mekanisme pertahanan non spesifik disebut juga komponen nonadaptif atau innate, atau imunitas alamiah, artinya mekanisme pertahanan yang tidak ditujukan hanya untuk satu jenis antigen, tetapi untuk berbagai macam antigen. Imunitas alamiah sudah ada sejak bayi lahir dan terdiri atas berbagai macam elemen non spesifik. Jadi bukan merupakan pertahanan khusus untuk antigen tertentu. Kemampuan sistem kekebalan untuk membedakan komponen sel tubuh dari komponen patogen asing akan menopang amanat yang diembannya guna merespon infeksi patogen – baik yang berkembang biak di dalam sel tubuh (intraselular) seperti misalnya virus, maupun yang berkembang biak di luar sel tubuh (ekstraselular) – sebelum berkembang menjadi penyakit.















DAFTAR PUSTAKA
Artikel Kedokteran. 2008. Faculty of Medis. Sel-Sel Sistem Imun)
Geo F. Brooks, dkk. 2007. Mikrobiologi kedokteran. Jakarta : EGC. Halaman 121)
Metchnikoff, Elie. Translated by F. G. Binnie. 1905. Immunity in infective diseases. Cambridge university press. ISBN 68025143.
Hasdinah H. R., dkk. 2014. Imunologi diagnosis dan teknik biologi molekular. Nuha Medika. Yogyakarta
Karnen Garna Baratawidjaja dan Iris Rengganis. 2014. Imunologi Dasar. Edisi XI. Cetakan kedua. FKUI : jakarta.
Subowo. 2014. Imunobiologi. Edisi III. Cetakan kedua. Sagung Seto : jakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar