BAB I
PENDAHULUAN
A.
Pengertian
Sistem
imun adalah suatu sistem pertahanan tubuh yang kompleks yang memberikan
perlindungan terhadap adanya invasi zat-zat asing ke dalam tubuh. Sistem
kekebalan tubuh atau sistem imun adalah sistem perlindungan dari pengaruh luar
biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme sehingga
tidak mudah terkena penyakit. Jika sistem imun bekerja dengan benar, sistem ini
akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan
sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Sebaliknya, jika sistem imun
melemah, maka kemampuannya untuk melindungi tubuh juga berkurang, sehingga
menyebabkan patogen, termasuk virus penyebab demam dan flu, dapat berkembang
dalam tubuh. Sistem imun juga memberikan pengawasan terhadap pertumbuhan sel
tumor. Terhambatnya mekanisme kerja sistem imun telah dilaporkan dapat
meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker.
Mekanisme pertahanan tubuh terdiri atas mekanisme
pertahanan non spesifik dan mekanisme pertahanan spesifik. Mekanisme pertahanan
non spesifik disebut juga komponen nonadaptif atau innate, atau
imunitas alamiah, artinya mekanisme pertahanan yang tidak ditujukan hanya untuk
satu jenis antigen, tetapi untuk berbagai macam antigen. Imunitas alamiah sudah
ada sejak bayi lahir dan terdiri atas berbagai macam elemen non spesifik. Jadi
bukan merupakan pertahanan khusus untuk antigen tertentu. Kemampuan sistem kekebalan untuk
membedakan komponen sel tubuh dari komponen patogen asing akan menopang amanat
yang diembannya guna merespon infeksi patogen – baik yang berkembang biak di
dalam sel tubuh (intraselular) seperti misalnya virus, maupun yang berkembang
biak di luar sel tubuh (ekstraselular) – sebelum berkembang menjadi penyakit.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan sistem Imun?
2. Apa
yang dimaksud dengan mekanisme pertahanan tubuh spesifik dan non spesifik?
3. Bagaimana
mekanisme efektor pertahanan tubuh yang terlibat dalam respon imun non spesifik?
4. Bagaimana
interaksi sistem imun non-spesifik dengan sistem Imun spesifik?
C.
Tujuan
Penulisan
Makalah ini
dibuat dengan bertujuan menjelaskan bagaimana sistem – sistem imun yang terjadi
pada tubuh manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Sistem Imun
Imunologi adalah ilmu yang mempelajari tentang proses
pertahanan atau imunitas terhadap senyawa makromolekuler atau organisme asing
yang masuk ke dalam tubuh. Sistem imun adalah suatu sistem
pertahanan tubuh yang kompleks yang memberikan perlindungan terhadap adanya
invasi zat-zat asing ke dalam tubuh. Sistem kekebalan tubuh atau
sistem imun adalah sistem perlindungan dari pengaruh luar biologis yang
dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme sehingga tidak mudah
terkena penyakit. Jika sistem imun bekerja dengan benar, sistem ini akan
melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel
kanker dan zat asing lain dalam tubuh.
Mekanisme pertahanan tubuh terdiri atas mekanisme
pertahanan non spesifik dan mekanisme pertahanan spesifik. Mekanisme pertahanan
non spesifik disebut juga komponen nonadaptif atau innate, atau
imunitas alamiah, artinya mekanisme pertahanan yang tidak ditujukan hanya untuk
satu jenis antigen, tetapi untuk berbagai macam antigen. Imunitas alamiah sudah
ada sejak bayi lahir dan terdiri atas berbagai macam elemen non spesifik. Jadi
bukan merupakan pertahanan khusus untuk antigen tertentu. Kemampuan sistem kekebalan untuk
membedakan komponen sel tubuh dari komponen patogen asing akan menopang amanat
yang diembannya guna merespon infeksi patogen – baik yang berkembang biak di
dalam sel tubuh (intraselular) seperti misalnya virus, maupun yang berkembang
biak di luar sel tubuh (ekstraselular) – sebelum berkembang menjadi penyakit.
Sebaliknya,
jika sistem imun melemah, maka kemampuannya untuk melindungi tubuh juga
berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus penyebab demam dan flu,
dapat berkembang dalam tubuh. Sistem imun juga memberikan pengawasan terhadap
pertumbuhan sel tumor. Terhambatnya mekanisme kerja sistem imun telah
dilaporkan dapat meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker. Berbagai
senyawa organik dan anorganik, baik yang hidup maupun mati yang berasal dari
hewan, tumbuhan, jamur, bakteri, virus, parasit, debu, polusi, asap, dan bahan
iritan lainnya yang masuk ke dalam tubuh dapat menimbulkan penyakit dan
kerusakan jaringan. Bagian-bagian yang dianggap bukan bagian tubuh (non-self)
akan dimusnahkan oleh sistem imun tubuh.
B. Mekanisme
pertahanan spesifik dan non spesifik
Mekanisme pertahanan tubuh spesifik atau disebut juga
komponen adaptif atau imunitas didapat adalah mekanisme pertahanan yang
ditujukan khusus terhadap satu jenis antigen, karena itu tidak dapat berperan
terhadap antigen jenis lain. Bedanya dengan pertahanan tubuh non spesifik
adalah bahwa pertahanan tubuh spesifik harus kontak atau ditimbulkan terlebih
dahulu oleh antigen tertentu, baru ia akan terbentuk. Sedangkan pertahanan
tubuh non spesifik sudah ada sebelum ia kontak dengan antigen.
1.
Mekanisme Pertahanan Non Spesifik
Sistem imun non-spesifik merupakan
pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi serangan berbagai mikroorganisme,
karena dapat memberikan respon langsung terhadap antigen. Sistem tersebut
disebut non-spesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu.
(Bratawidjaja dan Rengganis, 2009). Sebagai elemen
pertama dari
sistem imun untuk menemukan
agen
penyerang, respon imun non-spesifik
diaktifkan
lebih cepat
daripada
respon
imun spesifik namun
dengan durasi yang lebih singkat
(Delves and Ivan, 2000).
Komponen-kompenen sistem imun
non-spesifik terdiri atas:
a.
Pertahanan
fisik/mekanik
Dalam sistem pertahanan fisik atau
mekanik ini, kulit, selaput lendir, silia saluran napas, batuk dan bersin akan
mencegah masuknya berbagai kuman patogen ke dalam tubuh. Kulit yang rusak
misalnya oleh luka bakar dan selaput lendir yang rusak oleh asap rokok akan
meninggikan risiko infeksi (Baratawidjaja dan Rengganis,
2009).
Menurut
Baratawidjaja dan Rengganis
(2010), mekanisme imunitas non-spesifik terhadap bakteri pada
tingkat sawar fisik seperti kulit atau permukaan mukosa:
1. Bakteri yang
bersifat simbiotik atau komensal yang ditemukan pada kulit menempati daerah
terbatas pada kulit dan menggunakan hanya sedikit nutrient, sehingga kolonisasi
kolonisasi oleh mikroorganisme patogen sulit terjadi.
2. Kulit
merupakan sawar fisik efektif dan pertumbuhan bakteri dihambat sehingga agen
patogen yang menempel akan dihambat oleh pH rendah dari asam laktat yang
terkandung dalam sebum yang dilepas kelenjar keringat.
3. Sekret
dipermukaan mukosa mengandung enzim destruktif seperti lisozim yang
menghancurkan dinding sel bakteri.
4. Saluran napas
dilindungi oleh gerakan mukosiliar sehingga lapisan mukosa secara terus menerus
digerakkan menuju arah nasofaring.
5. Bakteri
ditangkap oleh mukus sehingga dapat disingkirkan dari saluran napas.
6. Sekresi mukosa
saluran napas dan saluran cerna mengandung peptida antimikrobial yang dapat
memusnahkan mikroba pathogen.
7.
Mikroba patogen yang berhasil menembus sawar fisik
dan masuk ke jaringan dibawahnya dapat dimusnahkan dengan bantuan komplemen dan
dicerna oleh fagosit.

Gambar: Mekanisme
pertahanan oleh sel epitel
b.
Pertahanan biokimiawi
Pertahanan biokimiawi adalah seperti asam hidroklorida dalam
lambung, enzim proteolitik dalam usus, serta lisozim dalam keringat, air mata,
dan air susu (Baratawidjaja dan Rengganis, 2009). Lisozim dalam keringat, ludah, air mata dan air
susu ibu, melindungi tubuh terhadap berbagai kuman postif-Gram oleh karena
dapat menghancurkan lapisan peptidoglikan dinding bakteri. Air susu ibu juga
mengandung laktooksidase dan asam neuraminik yang mempunyai sifat antibakterial
terhafap E.koli dan stafilokokus (Baratawidjaja dan Rengganis,
2010).
c.
Pertahanan humoral
·
Komplemen
Sistem
komplemen tersusun lebih dari 20 protein plasma. Sistem ini mempunyai fungsi
antimikroba non-spesifik dan merupakan sistem aplikasi yang efektif untuk
memperkuat mekanisme pertahanan non-spesifik dan spesifik (Wahab dan Julia,
2002). Berbagai bahan seperti antigen dan kompleks imun dapat mengaktivsi
komplemen sehingga menghasilkan berbagai mediator yang mempunyai sifat biologi
yang aktif, yang menyebabkan lisis bakteri atau sel, memproduksi mediator
pro-inflamasi yang dapat memperkuat proses dan solubilisasi kompleks
antigen-antibodi. Komplemen memiliki 3 jalur, yaitu jalur klasik, alternatif
dan membrane attack pathway. (Darwin,
2005).

Gambar: Jalur aktivasi komplemen
·
Interferon
Interferon adalah
sitokin berupa glikoprotein yang diproduksi makrofag yang diaktifkan, sel NK
dan berbagai sel tubuh yang mengandung nukleus dan dilepas sebagai respons
terhadap infeksi virus. IFN mempunya sifat antivirus dan dapat menginduksi
sel-sel sekitar sel yang terinfeksi virus menjadi resisten terhadap virus. Di
samping itu,IFN juga adapat mengaktifkan sel NK. Sel yang diinfeksi virus atau
menjadi ganas akan menunjukkan perubahan pada permukaannya yang akan dikenal
dan dihancurkan sel NK. Dengan demikian penyebaran virus dapat dicegah (Baratawidjaja dan
Rengganis, 2010).
·
C-Reactive
Protein
CRP merupakan salah
satu protein fase akut, termasuk golongan protein yang kadarnya dalam darah
meningkat pada infeksi akut sebagai respons imunitas non-spesifik. CRP mengikat
berbagai mikroorganisme yang membentuk kompleks dam mengaktifkan komplemen jalur
klasik. Pengukuran CRP berguna untuk menilai aktivitas penyakit inflamasi. CRP
dapat meningkat 100x atau lebih dan berperan pada imunitas non-spesifik yang
dengan bantuan Ca++ dapat mengikat berbagai molekul antara lain fosforilkolin
yang ditemukan pada permukaan bakteri/jamur dan dapat mengaktifkan komplemen
(jalur klasik). CRP juga mengikat protein C dari pneumokok dan berupa opsonin.
Peningkatan sintesis CRP akan meningkatkam viskositas plasma sehingga laju
endap darah juga akan meningkat. Adanya
CRP yang tetap tinggi menunjukan infeksi yang persisten (Baratawidjaja
dan
Rengganis, 2009).
d. Pertahanan selular
·
Fagosit
Sel utama yang
berperan dalam pertahanan nons-pesifik adalah sel mononuklear (monosit dan
makrofag) serta sel polimorfonuklear atau granulosit. Sel-sel ini berperan
sebagai sel yang menangkap antigen, mengolah dan selanjutnya
mempresentasikannya kepada sel T, yang dikenal sebagai sel penyaji atau APC. Kedua sel tersebut
berasal dari sel asal hemopoietik. Granulosit hidup pendek, mengandung granul
yang berisikan enzim hidrolitik. Beberapa granul berisikan pula laktoferin yang
bersifat bakterisidal (Baratawidjaja dan Rengganis, 2009)

Gambar: Proses fagositosis dalam berbagai tahap
·
Makrofag
Monosit ditemukan dalam
sirkulasi, tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit dibanding neutrofil. Monosit
bermigrasi ke jaringan dan di sana berdiferensiasi menjadi makrofag yang
seterusnya hidup dalam jaringan sebagai makrofag residen. Sel kuppfer adalah
makrofag dalam hati, histiosit dalam jaringan ikat, makrofag alveolar di paru,
sel glia di otak, dan sel langerhans di kulit. Makrofag dapat hidup lama,
mempunyai beberapa granul dan melepas berbagai bahan, antara lain lisozim,
komplemen, interferon dan sitokin yang semuanya memberikan kontribusi dalam
pertahanan nonspesifik dan spesifik (Mardjono dan Shidarta, 2006).
·
Sel NK (Natural
Killer)
Jumlah sel NK sekitar
5-15% dari limfosit dalam sirkulasi dan 45% dari limfosit dalam jaringan. Sel
tersebut berfungsi dalam imunitas nonspesifik terhadap virus dan sel tumor.
Secara morfologis sel NK merupakan limfosit dengan granul besar. Ciri-cirinya
yaitu memiliki banyak sekali sitoplasma (limfosit T dan B hanya sedikit),
granul sitoplasma azurofilik, pseudopodia dan nukleus eksentris (Baratawidjaja
dan Rengganis, 2009).
Pertemuan antara hospes dengan benda
asing menimbulkan respon elemen fagosit ke daerah tempat benda asing tersebut
masuk. Hal ini dapat terjadi sebagai bagian dari respon inflamatoris.
Ø Inflamasi
Setelah ancaman injuri jaringan, terjadi perluasan seluler dan
sistematik, dimana hospes mencaba unutuk menormalkan dan memelihara homeostatis
dari lingkungan yang merugikan. Bersamaan dengan respon inflamatoris timbul beberapa kejadian
sistematik yang melibatkan demam dan beberapa fenomena hematologik. Respon
demam ini diduga menggambarkan peningkatan aktifitas metabolik setelah
injuri. Mekanisme terjadinya demam diduga akibat lepasnya pirogen endogen dari
leukosit hospes. Kenaikan angka leukosit pada saat infeksi bakteri atau ada
injuri jaringan.
Ø Fagositosis
Sekali begerak sel-sel fagositosis melakukan serangan pada
sasarannya dengan proses yang disebut fagositosis yaitu suatu upaya
multiphase yang memerlukan langkah-langkah sebagai berikut: pengenalan (recognition) dari benda yang akan dicerna, gerakan ke arah obyek
(kemotaksis), perlekatan, penelanan (ingestion)
intraseluler oleh mekanisme mikroba-mikroba. Banyak mikroorganisme
menghasilkan faktor kemotaksis yang menarik sel-sel fagositosit.
Kerusakan dalam kemotaksis mungkin menyebabkan kerentangan yang luar biasa terhadap infeksi tertentu
(Wahab dan Julia, 2002).
2.
Pertahanan
mekanisme spesifik
Sistem imun spesifik mempunyai
kemampuan untuk mengenal benda
yang dianggap asing bagi dirinya. Benda asing
yang pertama kali terpajan dengan tubuh
segera dikenal oleh
sistem imun spesifik. Pajanan
tersebut menimbulkan sensitifitatasi, sehingga antigen
yang sama dan
masuk tubuh untuk
kedua kali akan
dikenal lebih cepat dan kemudian dihancurkan.
Oleh karena itu,
sistem tersebut disebut
spesifik. Untuk menghancurkan benda asing yang berbahaya
bagi tubuh, sistem imun spesifik dapat bekerja tanpa bantuan sistem imun nonspesifik.
Namun pada umumnya
terjalin kerjasama yang
baik antara sistem
imun nonspesifik dan spesifik
seperti antara komplemen-fagosit-antibodi dan
antara makrofag dengan sel T (Baratawidjaja dan Rengganis, 2010).
Sistem pertahanan spesifik terutama
tergantung pada sel-sel limfoid. Ada dua populasi utama sel limfoid, yaitu sel
T dan sel B. Rasio sel T terhadap sel B sekitar 3 : 1. Limfosit berkembang pada
organ limfoid primer, sel T berkembang di timus, sedangkan sel B di hepar janin
atau di sumsum tulang. Kedua jenis sel tersebut kemudian akan bermigrasi ke
jaringan limfoid sekunder, tempatnya merespon antigen (Wahab dan Julia, 2002).
Sistem imun spesifik terdiri atas sistem
humoral dan sistem seluler. Pada imunitas humoral, sel B
melepas antibodi untuk
menyingkirkan mikroba ekstraselular. Pada
imunitas seluler, sel T
mengaktifkan makrofag sebagai
efektor untuk menghancurkan
mikroba atau mengaktifkan
sel CTC/Tc sebagai efektor yang menghancurkan sel terinfeksi
(Baratawidjaja dan Rengganis, 2010).
a. Sistem
Imun Spesifik Humoral
Limfosit B atau sel B berperan dalam
sistem imun spesifik humoral. Sel B tersebut berasal dari sel asal multipoten.
Pada unggas sel asal tersebut akan berdiferensiasi menjadi sel B di dalam alat
yang disebut Bursa Fabricius yang terletak dekat kloaka. Bila sel B dirangsang oleh
benda asing, maka sel tersebut akan berproliferasi dan berkembang menjadi sel
plasma yang dapat membentuk zat antibodi. Antibodi yang dilepas dapat ditemukan
di dalam serum. Fungsi utama antibodi ini ialah untuk pertahanan terhadap
infeksi virus, bakteri (ekstraselular), dan dapat menetralkan toksinnya.
Sel
B merupakan asal dari sel plasma yang membentuk imunoglobulin (Ig) yang
terdiri atas IgG, IgM, IgA, IgE dan IgD. IgD berfungsi sebagai opsonin, dapat
mengaglutinasikan kuman/virus, menetralisir toksin dan virus, mengaktifkan
komplemen (jalur klasik) dan berperanan
pada Antibody Dependent Cellular Cytotoxicity (ADCC). ADCC tidak hanya
merusak sel tunggal
tetapi juga mikroorganisme multiselular
seperti telur skistosoma, kanker, penolakan
transplan, sedang ADCC
melalui neutrofil dan
eosinofil berperan pada imunitas
parasit. IgM dibentuk
terdahulu pada respons
imun primer sehingga kadar IgM
yang tinggi menunjukkan
adanya infeksi dini.
IgM merupakan aglutinator antigen serta
aktivator komplemen (jalur klasik) yang
poten. IgA ditemukan
sedikit dalam sekresi saluran napas, cerna dan kemih, air
mata, keringat, ludah dan air
susu ibu dalam bentuk IgA
sekretori (sIgA). IgA dan
sIgA dapat menetralisir
toksin, virus,
mengaglutinasikan kuman dan
mengaktifkan komplemen
(jalur alternatif). IgE berperanan pada
alergi, infeksi cacing,
skistosomiasis, penyakit hidatid,
trikinosis. Peranan IgD belum banyak diketahui dan diduga mempunyai efek antibodi
pada alergi makanan dan autoantigen (Baratawidjaja, 1993).
Sel B mengenali epitop
pada permukaan antigen dengan menggunakan molekul antibodi. Jika dirangsang
melalui kontak langsung, sel B berproliferasi, dan klon yang
dihasilkan dapat mengeluarkan
antibodi yang spesifisitas
adalah sama dengan
reseptor permukaan sel yang
mengikat epitop tersebut. Tanggapan biasanya melibatkan klon yang berbeda dari limfosit
dan oleh karena itu disebut sebagai
poliklonal. Untuk setiap epitop
terdapat beberapa klon limfosit yang berbeda dengan berbagai sel
B reseptor, yang
masing-masing mengenali
epitop dengan cara yang sedikit berbeda dan dengan kekuatan
mengikat yang berbeda
pula (afinitas)
(Delves and Ivan, 2000).

Gambar:
Pengenalan epitop pada sel B
b. Sistem
Imun Spesifik Seluler
Imunitas seluler ditengahi oleh
sekelompok limfosit yang berdiferensiasi di bawah pengaruh timus (Thymus),
sehingga diberi nama sel T. Cabang efektor imunitas spesifik
ini dilaksanakan langsung oleh limfosit yang tersensitisasi spesifik atau oleh
produk-produk sel spesifik yang dibentuk pada interaksi antara imunogen dengan limfosit-limfosit tersensitisasi
spesifik. Produk-produk sel spesifikasi ini ialah limfokin-limfokin termasuk
penghambat migrasi (migration inhibition
factor = MIF), sitotoksin, interferon dan lain sebagainya yang menjadi
efektor molekul-molekul dari imunitas seluler (Delves and Ivan, 2000).
Sel T merupakan 65-80% dari semua
limfosit dalam sirkulasi. Kebanyakan sel T mempunyai 3 glikoprotein permukaan yang dapat diketahui
dengan antibodi monoklonal T11, T1 dan T3 (singkatan T berasal dari Ortho yang membuat antibodi tersebut) (Delves
and Ivan, 2000). Fungsi sel T umumnya ialah:
1)
Membantu sel B dalam
memproduksi antibodi
2)
Mengenal dan menghancurkan sel yang diinfeksi virus
3)
Mengaktifkan makrofag
dalam fagositosis
4)
Mengontrol ambang dan
kualitas sistem imun
Pada tubuh ditemui beberapa jenis sel T, yaitu T”helper” atau Th;
T”inducer”, T”delayed hypersensitivity” atau Td, T”cytotoxic” atau Tc dan
T”supressor” atau Ts. T”helper” atau Th membantu sel B dalam pembuatan
“antibodi”. Untuk membuat antibodi terhadap kebanyakan antigen, baik sel B
maupun sel T harus mampu mengenali kembali bagian-bagian tertentu dari
antigennya. Th bekerja sama juga dengan Tc dalam pengenalan kembali sel-sel
yang dilanda infeksi viral dan jaringan cangkokan alogenik. Th membuat dan
melepaskan limfokin yang diperlukan untuk menggalakkan makrofag dan tipe sel lainnya.
T”inducer” adalah istilah yang digunakan untuk Th yang sedang menggalakkan jenis
sel T lainnya. T”delayed
hypersensitivity” atau Td adalah sel T yang bertanggungjawab atas pengarahan makrofag
dan sel-sel inflamasi lainnya ke tempat-tempat dimana terjadi reaksi hipersensitivitas yang terlambat. Mungkin
sekali Td bukan suatu sub jenis sel T melainkan kelompok Th yang sangat aktif.
T”citotoxic” atau Tc adalah sel T yang bertugas
memusnahkan sel atau jaringan cangkokan alogenik dan sel-sel yang dilanda
infeksi viral, yang dikenali kembali dalam interaksi dengan berbagai antigen
dalam MHC molekul pada permukaaan sel tujuannya. T”supressor” atau Ts mengatur
kegiatan sel T lain dan sel B. Sel tersebut dapat dikelompokkan dalam 2
golongan , yaitu Tc yang dapat menekan aktivitas sel yang memiliki reseptor
antigen spesifik atau yang non-spesifik (Black, 2002)
C. Interaksi
Sistem Imun Non-Spesifik dengan Sistem Imun Spesifik
Imunitas
non-spesifik berperan sebagai pertahanan pertama terhadap agen infeksius, dimana
mikroorganisme patogen akan dihancurkan sebelum berkembang biak dan sebelum
menimbulkan infeksi. Apabila pertahanan pertama tidak dapat mencegah infeksi
sehingga menimbulkan penyakit, maka sistem imun spesifik akan diaktivasi.
Penyembuhan melalui respon imun spesifik akan meninggalkan memori imunologi
yang spesifik sehingga infeksi selanjutnya dengan agen infeksius yang sama
tidak akan menimbulkan penyakit (Darwin, 2005).
Sistem kekebalan tubuh
non-spesifik menyediakan sinyal, yang bersama-sama dengan proliferasi antigen spesifik dan aktivasi limfosit
T dan B, menyebabkan sinyal dari
sistem imun non-spesifik meningkatkan
dan memodulasi respon
imun spesifik. Sistem kekebalan tubuh
non-spesifik memainkan peran
sebagai adjuvant pada aktivasi sistem kekebalan tubuh spesifik (Engelhardt, 2009).
Gambar:
Stimulasi yang terbentuk dari respon imun non-spesifik
kepada respon imun spesifik
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Sistem imun adalah suatu sistem pertahanan tubuh
yang kompleks yang memberikan perlindungan terhadap adanya invasi zat-zat asing
ke dalam tubuh.
Sistem kekebalan tubuh atau sistem imun adalah
sistem perlindungan dari pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan
organ khusus pada suatu organisme sehingga tidak mudah terkena penyakit. Jika
sistem imun bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap
infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain
dalam tubuh. Sebaliknya, jika sistem imun melemah, maka kemampuannya untuk
melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus
penyebab demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem imun juga
memberikan pengawasan terhadap pertumbuhan sel tumor. Terhambatnya mekanisme
kerja sistem imun telah dilaporkan dapat meningkatkan resiko terkena beberapa
jenis kanker.
Mekanisme pertahanan tubuh terdiri atas mekanisme
pertahanan non spesifik dan mekanisme pertahanan spesifik. Mekanisme pertahanan
non spesifik disebut juga komponen nonadaptif atau innate, atau
imunitas alamiah, artinya mekanisme pertahanan yang tidak ditujukan hanya untuk
satu jenis antigen, tetapi untuk berbagai macam antigen. Imunitas alamiah sudah
ada sejak bayi lahir dan terdiri atas berbagai macam elemen non spesifik. Jadi
bukan merupakan pertahanan khusus untuk antigen tertentu. Kemampuan sistem kekebalan untuk
membedakan komponen sel tubuh dari komponen patogen asing akan menopang amanat
yang diembannya guna merespon infeksi patogen – baik yang berkembang biak di
dalam sel tubuh (intraselular) seperti misalnya virus, maupun yang berkembang
biak di luar sel tubuh (ekstraselular) – sebelum berkembang menjadi penyakit.
DAFTAR
PUSTAKA
Artikel Kedokteran. 2008. Faculty
of Medis. Sel-Sel Sistem Imun)
Geo F. Brooks, dkk. 2007. Mikrobiologi
kedokteran. Jakarta : EGC. Halaman 121)
Metchnikoff, Elie. Translated by F. G. Binnie. 1905. Immunity in infective diseases.
Cambridge university press. ISBN 68025143.
Hasdinah H. R., dkk. 2014. Imunologi diagnosis dan teknik biologi molekular. Nuha Medika.
Yogyakarta
Karnen Garna Baratawidjaja dan Iris Rengganis. 2014. Imunologi Dasar. Edisi XI. Cetakan
kedua. FKUI : jakarta.
Subowo. 2014. Imunobiologi.
Edisi III. Cetakan kedua. Sagung Seto : jakarta