Depresi
Depresi
adalah gangguan medis yang tidak bisa disepelekan. Jika tidak ditangani secara
tepat, depresi bisa berakibat fatal hingga kematian. Maka, penanganan yang
diberikan pun harus aman dan terjamin. Salah satu penanganan yang ditawarkan
bagi penderita depresi adalah obat antidepresan. Depresi bukanlah penyakit yang
bisa disamakan secara umum. Ada berbagai jenis depresi yang bisa menyerang
Anda. Selain itu, setiap orang juga akan menunjukkan reaksi yang berbeda
terhadap depresi yang dialaminya. Berdasarkan tingkat parahnya gejala yang dialami,
WHO membagi depresi ke dalam tiga jenis berikut ini.
1. Depresi ringan
Umumnya
depresi ringan dipicu oleh kejadian atau peristiwa yang membuat Anda stres. Dari situ, muncullah kegelisahan dan kemurungan yang
akan membuat suasana hati Anda buruk dalam waktu yang cukup lama. Anda juga
mungkin mengalami kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari seperti bekerja,
belajar, dan berkonsentrasi. Kegiatan yang tadinya Anda nikmati pun jadi terasa
menyiksa dan membebani.
2. Depresi sedang
Di
samping gejala-gejala depresi ringan, Anda yang menderita depresi sedang mulai
merasakan tanda-tandanya secara fisik. Misalnya pola makan dan tidur yang
berubah drastis, tubuh yang terasa lemas dan berat, dan ekspresi wajah yang
kosong atau murung. Biasanya pada tingkat depresi sedang, dokter sudah
meresepkan obat antidepresan.
3. Depresi berat (major depressive disorder)
Pada
tahap depresi berat, biasanya Anda sudah tidak bisa menjalankan fungsi normal
Anda sehari-hari seperti menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh, bekerja,
bersosialiasi, atau berkendara. Ada kecenderungan kuat untuk mengurung diri dan
pada beberapa kasus yang ekstrem, mereka yang menderita depresi berat melakukan
percobaan bunuh diri. Depresi jenis ini biasanya membutuhkan penanganan
dengan obat antidepresan serta terapi.
Dalam
kondisi sehat, sel-sel saraf pada otak akan mengirimkan impuls lewat berbagai
senyawa dan zat dalam otak. Ketika Anda diserang depresi, senyawa-senyawa
tertentu dalam otak seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin jadi tidak
seimbang dan menghalangi saraf untuk mengirim impuls. Para ahli percaya bahwa
obat antidepresan akan membantu menyeimbangkan senyawa dan zat-zat yang
diperlukan otak untuk berfungsi secara normal. Secara umum, obat antidepresan
aman dikonsumsi jika Anda mengikuti saran dan takaran yang diberikan oleh
dokter atau psikiater. Pasien yang mengonsumsi obat antidepresan menunjukkan
perbaikan pada suasana hati dan tingkat konsentrasi lebih cepat dari mereka
yang tidak mengonsumsi obat antidepresan. Obat antidepresan juga mampu
meningkatkan energi sehingga tubuh tak lagi terasa lemas dan berat. Anda pun
bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan relatif lebih mudah. Jika diiringi
dengan terapi, obat antidepresan bisa mencegah depresi dalam jangka panjang.
Obat
antidepresan tidak bisa bekerja dalam sekejap. Untuk merasakan perbaikan dan
perubahan yang positif, biasanya pasien membutuhkan waktu paling cepat satu
bulan setelah memulai pengobatan dengan antidepresan. Pada beberapa orang, efek
obat ini baru akan terasa setelah empat atau enam bulan karena gaya hidup yang
kurang mendukung penyembuhan. Setelah itu pun Anda tidak dianjurkan untuk
langsung menghentikan pengobatan. Anda mungkin diminta untuk tetap meneruskan
pengobatan dengan antidepresan selama satu hingga dua tahun, tergantung kondisi
dan tingkat depresi tersebut.
Di
samping lamanya waktu yang dibutuhkan, ada juga faktor efek samping obat yang
cukup berdampak bagi hidup Anda. Lebih dari 30% orang yang menjalani pengobatan
dengan antidepresi melaporkan efek samping yang dirasakan pada minggu-minggu
awal. Efek samping yang paling sering muncul dan antara lain mual, pusing,
gemetar, dan berkeringat. Namun, biasanya efek ini akan hilang sendiri dalam
waktu beberapa hari. Sementara efek samping yang cukup mengganggu adalah insomnia,
gelisah, panik, kehilangan gairah seksual, dan berat badan bertambah. Dalam
beberapa kasus yang sangat jarang terjadi, obat antidepresan bisa mendorong
pikiran-pikiran negatif seperti bunuh diri. Akan tetapi, biasanya mereka yang
mengonsumsi obat antidepresan, terutama penderita depresi berat, sudah memiliki
pikiran seperti ini sehingga sulit untuk membedakan mana yang dihasilkan oleh
pengobatan dan mana yang memang berasal dari benak pasien itu sendiri.
