Prosiding
Penelitian SPeSIA Unisba 2015 ISSN 2460-6472
Analisis Kuantitatif Pewarna Eritrosin Pada Susu Kedelai Yang Dijual Toko Tahu Di Cibuntu Dengan Metode Spektrofotometri Sinar Tampak
1Gamal Robby Dewanto, 2Bertha
Rusdi, 3Rusnadi
Abstrak: Susu kacang kedelai atau
sari kedelai adalah minuman yang dibuat dari kacang kedelai kuning. Minuman ini
sering disebut susu kacang kedelai karena berwarna putih kekuningan mirip
dengan susu. Bahan tambahan pangan ditambahkan pada suatu produk makanan atau minuman untuk mempercantik
penyajian, menambah rasa, maupun mengawetkan produk tersebut. Salah satu bahan
tambahan pangan adalah pewarna. Pada penelitian ini ditentukan kadar pewarna eritrosin dalam sampel susu
kedelai dengan metode spektrofotometri UV-VIS. Pengujian dilakukan sebanyak
tiga kali, hasil menunjukkan kandungan
pewarna eritrosin pada sampel 1 kadarnya 123,933 mg/L, sampel 2 kadarnya 47,456
mg/L dan sampel 3 kadarnya 110,838 mg/L.
Kata kunci : susu kedelai, pewarna,
eritrosin, spektrofotometer uv-vis
A. Pendahuluan
Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah,
biji kecipir, koro kelapa dan lain-lain merupakan bahan pangan sumber protein
dan lemak nabati yang sangat penting peranannya dalam kehidupan. (Esti, 2000)
Susu kacang kedelai (lebih tepatnya adalah sari kedelai) adalah semacam
minuman yang dibuat dari kacang kedelai kuning, sehingga disebut susu kacang
kedelai karena minuman ini berwarna putih kekuningan mirip dengan susu. Susu
kedelai salah satu hasil pengolahan yang merupakan hasil ekstraksi dari
kedelai. Protein susu kedelai memiliki susunan asam amino yang hampir sama
dengan susu sapi sehingga susu kedelai seringkali digunakan sebagai pengganti
susu sapi bagi mereka yang alergi terhadap susu hewani. Susu kedelai merupakan
minuman yang bergizi tinggi, terutama kandungan proteinnya. Selain itu susu
kedelai juga mengandung lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, provitamin A, vitamin B kompleks (kecuali B12), dan
air. (Budimarwanti, 2007)
Agar makanan yang tersaji tersedia dalam bentuk yang lebih menarik,
rasa enak, rupa dan konsistensinya baik serta awet maka sering dilakukan penambahan bahan tambahan pangan yang
sering disebut food additive.
Adakalanya makanan yang tersedia tidak mempunyai bentuk yang menarik meskipun kandungan gizinya tinggi. Oleh karena itu
sering diberi pewarna untuk memberikan ketertarikan tersebut. Di SNI 01-
3830-1995 tentang susu kedelai terdapat syarat mutu susu kedelai diantaranya pewarna.
Pewarna makanan merupakan benda
berwarna yang memiliki afinitas kimia terhadap makanan
yang di warnainya. Tujuan pemberian warna dimaksudkan agar
makanan terlihat lebih
berwarna sehingga, menarik
perhatian konsumen. Bahan pewarna makanan umumnya berwujud cair dan
bubuk yang larut di air. Eritrosin adalah contoh pewarna makanan merah sintetik
yang sering digunakan. (Winarno:1995)
Menurut Majalah Kesehatan (2010) yang di tuilis oleh dr.Salma beberapa
studi ilmiah telah mengaitkan penggunaan pewarna buatan dengan hiperaktivitas
pada anak- anak. Hiperaktivitas adalah suatu kondisi dimana anak mengalami
kesulitan untuk memusatkan perhatian dan mengontrol perilaku mereka. Pada bulan
November 2007,
sebuah hasil penelitian yang
diterbitkan di jurnal medis terkemuka Lancet oleh McCann D dan kawan- kawan
mengungkapkan bahwa beberapa zat pewarna makanan meningkatkan tingkat
hiperaktivitas anak-anak usia 3-9 tahun. Anak-anak yang mengkonsumsi makanan
yang mengandung pewarna buatan itu selama bertahun-tahun lebih berisiko
menunjukkan tanda-tanda hiperaktif. Selain risiko hiperaktif, sekelompok sangat
kecil dari populasi anak (sekitar 0,1%) juga
mengalami efek samping lain
seperti: ruam, mual, asma, pusing
dan pingsan. Zat pewarna sintesis ini bersifat racun jika digunakan dalam
pewarna makanan dan dapat memicu pertumbuhan
zat karsinogenik yang menyebabkan munculnya penyakit kanker.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan
yaitu apakah susu kedelai yang dijual di toko tahu dan susu kedelai daerah
cibuntu mengandung bahan tambahan pangan (pewarna) eritrosin dan jika susu
kedelai tersebut mengandung bahan tambahan (pewarna) diatas, maka akan
ditentukan kadarnya dalam susu kedelai tersebut.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya Bahan
Tambahan Pangan pada produk susu kedelai yang dikonsumsi masyarakat dan
menentukan layak tidaknya produk tersebut diperjual belikan di pasaran.
B. Landasan Teori
Susu kedelai adalah hasil ekstraksi protein dari kedelai. Protein susu
kedelai memiliki susunan asam amino yang hampir sama dengan susu sapi sehingga
susu kedelai dapat digunakan sebagai pengganti susu sapi bagi orang yang alergi
terhadap protein hewani. Susu kedelai merupakan minuman yang bergizi karena
kandungan proteinnya tinggi. Selain itu susu kedelai juga mengandung lemak,
karbohidrat, kalsium, phosphor, zat besi, provitamin
A, Vitamin B kompleks (kecuali B12),
dan air. (Radiyati, 1992)
Mengingat penggunaan zat pewarna sudah begitu meluas dimasyarakat dan kurangnya pemahaman masyarakat akan dosis
penggunaan zat pewarna yang dapat menyebabkan efek toksik, maka pemakaian atau
penggunaan zat pewarna telah diatur di Indonesia. Peraturan tentang zat pewarna
tertentu yang dinyatakan sebagai
bahan berbahaya dan dilarang penggunaannya di Indonesia adalah peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.235/Menkes/Per/V/1985. Sedangkan
peraturan Menteri Kesehatan No.722/Menkes/Per/IX/1988 adalah tentang bahan tambahan
pangan dan batas maksimum dari zat warna yang diizinkan.
Dalam sebuah jurnal yang membahas tentang eritrosin yang buat oleh Ayu
Puspita Febrindari pada tahun 2012 menyatakan mengkonsumsi eritrosin dalam
dosis tinggi dapat bersifat karsinogen. Selain itu juga dapat mengakibatkan
reaksi alergi seperti nafas pendek, dada sesak, sakit kepala, dan iritasi
kulit.
Efek samping lainnya adalah pada beberapa kasus berakibat pada
meningkatnya hiperaktivitas, juga adanya kemungkinan hubungan dengan
mutagenisitas. Eritrosin mengakibatkan kenaikan sensitivitas cahaya pada orang
yang sensitif terhadap sinar matahari. Pada konsentrasi yang tinggi, eritrosin
mengganggu metabolism iodium. Akan tetapi, konsentrasi tinggi ini tidak dapat
dicapai melalui konsumsi makanan yang mengandung eritrosin.
C. Hasil Penelitian
Pada penelitian penentuan pewarna eritrosin yang berada pada sampel susu
kedelai, peneliti melakukan pengambilan sampel di toko tahu dan susu kedelai di
daerah Cibuntu kota Bandung, yang merupakan pusat pengolahan bahan kedelai
menjadi produk makanan dan minuman di kota Bandung. Pada pengambilan sampel
susu kedelai ini peneliti hanya mengambil satu jenis susu kedelai yang bewarna
merah yaitu susu kedelai rasa stroberi dan dilakukan satu kali pengambilan
dalam setiap minggunya.
Analisis
dilakukan terhadap jumlah kadar zat pewarna eritrosin yang terdapat dalam susu
kedelai yang dijual oleh toko tahu dan susu kedelai didaerah Cibuntu
menggunakan metode spektrofotometri UV-VIS mengacu pada metode yang digunakan
oleh BPOM yaitu tentang analisis pewarna larut air.
Sebelum dianalisis, sampel susu kedelai diendapkan proteinnya menggunakan
pelarut metanol bertujuan untuk memisahkan protein dan pewarna pada susu
kedelai karena protein akan mengendap saat di tambahkan metanol. Setelah itu di
vortek selama
2 menit agar
interaksi metanol dengan protein lebih baik. Setelah itu dilakukan sentrifugasi
untuk memudahkan pemisahan protein dan supernatan. Lalu pengukuran sampel
dilakukan triplo.
Setelah itu dilakukan penentuan panjang gelombang maksimum eritrosin
dengan menggunakan larutan baku pembanding eritrosin.panjang gelombang
eritrosin yang didapat adalah 531 nm dengan menggunakan pelarut metanol.
Kemudian setelah menemukan panjang gelombang maksimum pada pembanding,
dilakukan analisis kualitatif yaitu dengan melihat absorbansi antara larutan
sampel yang ditambahkan pembanding dengan larutan sampel tanpa ditambahkan
pembanding pada panjang gelombang yang sudah didapatkan. Hasilnya adalah pada
susu kedelai yang belum ditambahkan pembanding nilai absorbansinya adalah
0,287, sedangkan pada susu kedelai yang sudah ditambahkan pembanding nilainya
adalah 1,587 dengan panjang gelombang maksimal eritrosin 531 nm. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan
bahwa pada susu kedelai tersebut mengandung pewarna eritrosin.
Sebelum dilakukan analisis kuantitatif dengan spektrofotometer, dilakukan
verifikasi metode berupa linieritas, presisi, dan akurasi. Tujuan verifikasi
metode yaitu untuk memastikan bahwa analis dapat menerapkan metode analisis
dengan baik dan menjamin mutu hasil uji. Untuk mengetahui hal itu perlu diuji
kelinierannya, maka dibuat kurva kalibrasi antara konsentrasi analit
(eritrosin) terhadap terhadap absorbansi. Koefisien korelasi (r) dari kurva
kalibrasi yang di peroleh adalah 0,994. Dengan demikian hubungan antara
absorbansi terhadap konsentrasi analit (eritrosin) adalah cukup baik karena
nilai koefisien yang diperoleh mendekati nilai 1.
Gambar C.1 Kurva kalibrasi eritrosin
Kecermatan
metode pada penelitian yang dilakukan dengan Spike Placebo Recovery Method. Dalam metode ini, peneliti
menggunakan sampel susu simulasi yang dibuat sendiri dan ditambahkan eritosin
dengan konsentrasi 45, 55, dan 65 ppm. Setelah dilakukan perhitungan akurasi
dengan persen perolehan kembali diketahui bahwa semakin besar konsentrasi yang
ditambahkan maka persen perolehan kembali yang didapat semakin kecil.
Berdasarkan data perolehan kembali yang memenuhi persyaratan adalah 80-110%,
hasil perhitungan % perolehan kembali tidak memenuhi persyaratan kriteria di
atas kemungkinan disebabkan oleh metode yang yang digunakan kurang baik.
Tabel C.1 Data akurasi
Presisi adalah kemampuan untuk memproduksi hasil yang sama dalam beberapa
kali pengukuran. Ini tidak mempertimbangkan apakah hasil yang dekat dengan
nilai sebenarnya. Selama hasil secara konsisten atau berulang kali dekat satu
sama lain, ada presisi dalam pengukuran. Presisi yang dilakukan adalah presisi
hari yang dilakukan dalam satu hari. Tujuan dari presisi sendiri adalah untuk
melihat kinerja alat dan metode analisis yang sedang digunakan, kriteria
penerimaan presisi pada penetapan kadar apabila RSD (KV) ≤ 2 %. Dari hasil
perhitungan bahwa RSDnya masuk dalam kriteria presisi yaitu 1,151%.
Batas deteksi adalah titik di mana suatu nilai yang terukur lebih besar dari ketidakpastian yang terkait dengannya. Ini adalah konsentrasi
terendah dari analit dalam suatu
sampel yang dapat dideteksi namun tidak selalu diukur, nilai LOD yang dihasilkan adalah 2,07 ppm. Batas
kuantifikasi didefinisikan sebagai jumlah terkecil yang masih dapat di ukur
dalam kondisi percobaan yang sama dan masih memenuhi kriteria cermat, nilai LOQ
yang dihasilkan adalah 6,9 ppm.
Setelah dilakukan verifikasi metode dilakukan analisi kuantitatif
sampel. Hasil analisis kadar eritrosin dalam susu kedelai dengan menggunakan
metode spektrofotometer UV Vis pada panjang gelombang 531 nm dapat dilihat pada
tabel berikut:
Tabel C.2 Data hasil analisis eritrosin
Hasil penelitian menunjukan sampel susu kedelai yang dijual di toko tahu
dan susu kedelai Cibuntu menunjukan hasil yang positif, rentang kadar dalam
sampel yang diperoleh yaitu 47,456 mg/L – 112,933 mg/L.
D. Kesimpulan
Hasil penelitian kadar erirosin dalam susu kedelai yang dijual di toko
tahu dan susu kedelai daerah Cibuntu dari sampel menunjukan bahwa susu kedelai
yang dijual mengandung bahan pewarna eritosin, dari hasil pengukuran kandungan
eritrosin pada sampel 1 pengambilan pertama yaitu 123,933 mg/L, sampel 2
pengambilan kedua yaitu 47,456 mg/L dan sampel 3 pengambilan ketiga 110,838
mg/L.
Daftar Pustaka
Cahyadi, Wisnu. 2007. “Teknologi dan Khasiat Kedelai”, Bumi Aksara,
Jakarta
Clode, S.
A., Hooson, J., Butler, W.H., & Conning, D.M. (1982) Long-term study in
rats with Amaranth using animals exposed in
utero. BIBRA Report No.242/1/82. Unpublished report from the European
Colours Steering Group submitted to WHO.
Di akses di
http://www.inchem.org/documents/jecfa/jecmono/v19je02.htm
Depkes R.I, dan Dirjen POM, 1988. Peraturan Menteri Kesehatan
RI Nomor 722/Menkes/Per/IX/1988 Tentang Bahan Tambahan Makanan, Jakarta
Esti. Setiadi, Agus. 2000. Susu Kedelai. Di akses di
http://www.warintek.ristek.go.id/pangan_kesehatan/pangan/piwp/susu_kedelai.p
df
Iga, T. Awazu, S.& Nogami, H. (1971). Pharmacokinetic study of
biliary excretion. II. Comparison of excretion behaviour intriphenylmethane
dyes. Di akses di
http://www.inchem.org/documents/jecfa/jecmono/v20je12.htm
JECFA, 1981. Combined Compedium of Food Additive Specification.
Eryhthrosine. Di akses di http://www.fao.org/ag/agn/jecfa-additives/specs/Monograph1/Additive-
174.pdf
Khopkar, S. M. penerjemah Saptorahardjo. 1990. Konsep Dasar Kimia
Analitik.
Jakarta: UI Press
Maulana, Murad. 2014. Manfaat Susu Kedelai, Kandungan Gizi dan Cara
Pembuatannya. Di akses di http://www.muradmaulana.com/2014/08/manfaat-
susu-kedelai-kandungan-gizi-dan.html
McCann, D. dkk. 2007. Food additives and hyperactive behaviour in
3-year-old and 8/9- year-old children in the community: a randomised,
double-blinded, placebo- controlled trial. Pdf
Muchtaridi. 2009. Pembuatan Susu Kedelai. Di akses
di pustaka.unpad.ac.id/wp- content/uploads/2009/06/susu_kedelai.pdf
Mulja, M, Suharman. 1997. Validasi
Metode Analisa Instrumental. Surabaya: Airlangga University Press.
Noviana, 2005. Analisa Kualitatif dan Kuantitatif Zat Pewarna Merah
pada Saus Tomat dan Saus Cabe yang Dipasarkan di Pasar Lambaro Kabupaten Aceh
Besar, Skripsi FKM USU, Medan.
Peraturan
Perundang-undangan Indonesia, Undang Undang Pangan No. 7 Tahun 1996 Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, tentang Bahan Tambahan Pangan No.
033 Tahun 2012
Puspita, Ayu Febriani. 2012. Eritrosin. DI akses di
https://www.scribd.com/doc/97894726/Eritrosin#scribd
Radiyati, T. dkk. 1992. Pengolahan kedelai. Subang :
BPTTG Puslitbang Fisika Terapan-LIPI
Rohman, A. dan Gandjar, I. G. 2007. Kimia Farmasi
Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Ryan, A. J. & Wright, S. E. 1975,Toxicologicalevaluation of some
food colours, thickeningagents, and certain other substancse. Di akses di
http://www.inchem.org/documents/jecfa/jecmono/v08je02.htm
Salma. 2010. Bahaya Efek Samping Pewarna Buatan. Di
akses di
http://majalahkesehatan.com/bahaya-efek-samping-pewarna-buatan/
Sari, kurnia dan nurul fitri, Jurnal Optimasi Penambahan Alginat
Sebagai Emulsifier Pada Susu Kedelai Dengan Variasi Kecepatan, Waktu, dan Suhu
Pengadukan. Di akses di http://eprints.undip.ac.id/16673/1/ARTIKEL.pdf
Sastrawijaya A.Tresna,
2000,Pencemaran Lingkungan,Rineka Cipta, Jakarta Sastrohamidjojo, H. 2001.
Dasar – dasar Spektroskopi.Yogyakarta : Liberty Sudarmadji, S. 1989. Analisa
Bahan Makanan dan Pertanian.Yogyakarta : Liberti
Syah Dahrul, dkk. 2005, Manfaat dan Bahaya Tambahan
Pangan, Himpunan Alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Bandung
Tranggono, dkk. 1989. Bahan Tambahan Makanan.
Yogyakarta: Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Universitas Gadjah Mada
Winarno, F.G. 1995. Enzim Pangan. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Yuliarti, Nurheti. 2007. Awas Bahaya di Balik Lezatnya Makanan,
Yogyakarta : Penerbit Andi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar